Di Aceh, rencong adalah lambang kehormatan dan ketegasan. Tapi ternyata, ada senjata yang ingin dibuat lebih tajam dan diam-diam: Surat Keputusan Kemendagri. Tanpa perlu berbunyi atau diasah, SK bisa mencabut empat pulau dari pangkuan Aceh.
Keempat pula —Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek— digergaji Menteri Dalam Negeri lalu dipindah ke Sumatera Utara, secepat petir di tengah musim paceklik. Hanya dengan selembar kertas bernomor 30022/2138/2025, hilanglah empat pulau dari peta Aceh, seperti dicoret pakai penghapus putih milik birokrasi pusat.
Bisa jadi ini bukan kejadian perdana dalam sejarah geografi politis kita. Tapi yang membuat kasus ini menjadi lebih dari sekadar drama birokrasi adalah fakta: secara historis, geografis, dan sosiologis, keempat pulau itu jelas lebih dekat ke Aceh dan jelas milik Aceh.
Itu tercatat di perjanjian Helsinksi. Juga ada di perjanjian resmi 1992, disahkan oleh kedua gubernur dan disaksikan Mendagri saat itu Rudini, yang menyatakan keempat pulau milik Aceh. Namun, ternyata tinta birokrasi hari ini mau lebih sakti dari dokumen negara semalam.
Tidak perlu perang, tidak perlu musyawarah. Cukup tanda tangan dan stempel. Selesai sudah sejarah. Menyadari kekacauan ini, meski agak terlambat, pada 3 Juni 2025, sejumlah pejabat, dari DPR RI, DPD, hingga Forkopimda Aceh, mendadak tampil menyatakan penolakan.
Mereka menjadikan laut Aceh Singkil jadi panggung politik terbuka. Di atas speedboat, dengan gaya gabungan antara ekspedisi penjajakan dan parade kemerdekaan, mereka demo bersama. Ada spanduk, doa bersama, orasi, dan tentu saja sesi foto untuk media sosial.
Tapi mari kita jujur: apakah ini tidak terlambat? Di saat SK sudah berumur dua bulan lebih, dan publik Aceh mulai membara, baru muncul pernyataan dan manuver simbolik. Sebelumnya? Sepi. Sunyi. Seolah keempat pulau itu tak pernah ada di benak para elite.
Tapi, tak apa terlambat, daripada dicatat merah dalam sejarah. Namun, kalau benar peduli, gugatan hukum ke MA atau interpelasi DPR seharusnya berjalan bersamaan. Sayangnya, lebih banyak suara di atas gelombang dan medsos daripada langkah nyata di ruang sidang.
Sekali lagi, tak apa. Tokh, kepemilikan Aceh atas keempat pulau sesungguhnya lebih kuat. Kesepakatan tahun 1992 antara Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, dan Gubernur Aceh, Ibrahim Hasan, menjadi tonggak penting dalam menyelesaikan sengketa empat pulau di wilayah Singkil.
Dengan mediasi Menteri Dalam Negeri saat itu, Rudini, kedua belah pihak menyetujui bahwa Pulau Panjang, Mangkir Gadang, Mangkir Ketek, dan Lipan sepenuhnya masuk dalam wilayah Aceh. Sengketa lama selesai saat itu.
Dokumen tersebut menegaskan bahwa Sumatera Utara tidak berhak lagi mengklaim wilayah tersebut maupun mengeluarkan izin usaha di sana. Pengelolaan sumber daya alam menjadi hak penuh Aceh, dan kerja sama antar-provinsi hanya diperbolehkan dalam ranah teknis.
Kekuatan hukum kesepakatan ini tidak terbantahkan. Ia diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan telah mendapat legitimasi Mahkamah Agung melalui Putusan No. 01.P/HUM/2013, yang menolak gugatan Sumatera Utara.
Dokumen ini juga tercatat sebagai arsip resmi di Kementerian Dalam Negeri. Meski demikian, klaim ulang oleh pemerintah Sumut di era berikutnya, termasuk oleh Bobby Nasution, menunjukkan upaya pembangkangan terhadap kesepakatan yang sah dan mengikat.
Aceh, yang berpegang pada prinsip hukum dan penghormatan terhadap sejarah, menegaskan bahwa pelanggaran semacam ini bisa dibawa ke forum internasional jika diperlukan. Posisi Gubernur Aceh Muzakir Manaf cukup kuat untuk membela, meskipun kini diajak “berdamai”?
Tapi, apa sebetulnya alasan Kemendagri kali ini? Hanya evaluasi administratif. Sebuah istilah yang bisa berarti apa saja: dari revisi … Suwun
Walisongo.net dengan bangga mempersembahkan ulasan mendalam mengenai salah satu permata intelektual dari Tanah Air, Syekh Junaid al-Batawi. Seringkali, masyarakat Betawi identik dengan humor dan ceplas-ceplos, yang terkadang menutupi kedalaman intelektual yang mereka miliki. Padahal, sejak abad ke-18, kiprah intelektual Betawi sudah diakui bahkan di Tanah Suci dan memiliki peran besar dalam membangun fondasi keislaman di Indonesia. Salah satu poros utamanya adalah Syekh Junaid al-Batawi, ulama kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, yang jaringannya meluas ke seluruh penjuru dunia Islam pada awal abad ke-19. Kisah beliau bukan hanya tentang keilmuan, tetapi juga tentang sebuah warisan silsilah yang menghubungkannya langsung dengan para pendiri peradaban Islam di Nusantara.
Menguak Silsilah Syekh Junaid: Jejak Para Raja dan Ulama
Syekh Junaid al-Batawi tidak hanya dikenal karena keilmuannya yang mendalam, tetapi juga karena silsilah keturunannya yang luar biasa, menunjukkan garis darah biru yang mengalir dalam dirinya. Silsilah ini menghubungkannya dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa, termasuk para pendiri Kesultanan Demak dan bahkan salah satu Wali Songo.
Berikut adalah runtutan silsilah beliau yang berhasil didokumentasikan, menampilkan mata rantai kebangsawanan dan keilmuan:
Syekh Junaid bin
Imam Damiri bin
Imam Habib bin
Raden Abdul Muhit bin
Pangeran Cakrajaya Nitikusuma (Adiningrat IV) bin
Raden Arya Jipang / Arya Penangsang (Sayid Husein) bin
Raden Bagus Surawiyata / Raden Sekar Seda Lepen (Sayid Ali) bin
Raden Fattah (Sayid Hasan), pendiri Kesultanan Demak.
Yang paling menarik dari silsilah ini adalah pernikahan Raden Fattah dengan Dewi Murtashimah / Asyikah / Ratu Panggung binti Makhdum Sunan Ampel Al Bukhari Al Kazhimi Al Husaini. Ini menandakan adanya korelasi erat antara garis keturunan Raden Fattah dengan Sunan Ampel, salah satu Wali Songo yang sangat krusial dalam penyebaran Islam di Jawa. Dengan demikian, Syekh Junaid al-Batawi memiliki ikatan darah langsung sebagai cucu dari Sunan Ampel, memperkuat posisinya sebagai figur sentral dalam jaringan keilmuan Islam Nusantara.
Selain silsilah di atas, Raden Fattah Demak juga diketahui memiliki garis keturunan dari pihak lain, yang semakin memperkaya akar keilmuan dan keagamaan beliau:
Raden Fattah Demak bin
Retna Siu Ban X binti
Syekh Abdullah Darqom / Syekh Bentong bin
Syekh Hasanudin Quro Al Jailani Al Hasani.
Silsilah ini semakin memperkuat pemahaman kita tentang betapa dalamnya akar keilmuan dan keagamaan dari Raden Fattah, yang merupakan cikal bakal Kesultanan Demak. Nama Syekh Abdullah Darqom atau Syekh Bentong serta Syekh Hasanudin Quro Al Jailani Al Hasani menunjukkan adanya hubungan dengan para ulama besar yang memiliki sanad keilmuan yang kuat. Ini menegaskan bahwa Syekh Junaid al-Batawi lahir dari lingkungan yang kental dengan tradisi keilmuan Islam dan memiliki silsilah yang terhubung dengan ulama-ulama besar di Nusantara maupun di Timur Tengah.
Hijrah ke Makkah dan Gemilang Kiprahnya sebagai Intelektual Dunia
Data otobiografi Syekh Junaid al-Batawi memang tidak banyak terdokumentasi di tanah air. Namun, keberadaan dan pengaruh keilmuan beliau justru terkuak secara signifikan dalam catatan perjalanan orientalis terkemuka asal Belanda, C. Snouck Hurgronje (1936 M). Setelah berhasil menyusup ke Makkah pada 21 Januari 1885 dan tinggal selama tujuh bulan, Hurgronje menulis dalam jurnalnya, Mecca In The Latter Part Of 19th Century, bahwa di Makkah pada perempat ketiga abad ke-19, ada “sesepuh” (Nestor) para ulama Jawa yang berasal dari Tanah Betawi bernama “Junaid” yang sudah menetap selama 50 tahun. Diperkirakan, beliau sudah bermukim di Makkah sejak tahun 1834, tanpa diketahui pasti kapan waktu hijrahnya. Jika data ini akurat, berarti Syekh Junaid berhijrah ke Makkah dalam usia yang cukup matang, sekitar 30 tahun, membawa serta kekayaan intelektual dan spiritual dari Nusantara.
Sebagai seorang Imam Masjidil Haram, posisi Syekh Junaid al-Batawi sangatlah prestisius dan menunjukkan pengakuan atas keilmuan serta integritasnya. Rakhmad Zailani Kiki dkk dalam Genealogi Intelektual Ulama Betawi (2018), menyebutkan bahwa Syekh Junaid Al-Batawi adalah sosok yang sangat berpengaruh di Makkah. Beliau terkenal di seantero dunia Islam Sunni dan mazhab Syafi’i sepanjang abad ke-18 dan 19. Ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di kancah global.
Ridwan Saidi mengungkapkan, Syekh Junaid al-Batawi memiliki banyak murid yang kemudian menjadi ulama terkemuka di tanah air bahkan dunia Islam. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, pengarang Tafsir Al-Munir dan 37 kitab karangan lainnya yang masih diajarkan di berbagai pesantren Indonesia dan di luar negeri. Murid Syekh Junaid lainnya adalah Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, seorang imam, khatib, dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i. Berkat keluasan ilmunya, beliau diberi gelar “Syekh al-Masyāyikh” atau “Gurunya para guru”, sebuah gelar kehormatan yang menunjukkan posisi sentral Syekh Junaid dalam lingkaran keilmuan Islam. Murid Syekh Junaid lainnya adalah KH. Abdul Karim Tebuwung Dukun Gresik, yang dikenal sebagai “Guru Ulama Pantura” atau “Sunan Drajat Tebuwung.”
Penghormatan Abadi dari Keluarga Kerajaan Saudi
Kiprah dan pengaruh Syekh Junaid al-Batawi begitu besar hingga saat Makkah ditaklukkan pada tahun 1925 M dan diadakan perjanjian gencatan senjata antara Raja Ali bin Husein dengan Raja Ibnu Saud, keluarga Syekh Junaid masuk dalam daftar resmi pemerintah kerajaan yang diberi hak istimewa. Hal ini karena mereka telah menjalin hubungan baik dengan penguasa Makkah sebelumnya. Keturunan keluarga Betawi ini terdeteksi sejak 1987 M sampai sekarang dan masih tetap dalam perlindungan Kerajaan Saudi Arabia.
Ini adalah bukti konkret betapa besar kehormatan yang diberikan kepada Syekh Junaid dan keturunannya. Bahkan, konon keluarga besar Syekh Junaid yang bermukim di Jeddah biasa mengadakan acara Maulid dan Isra Miraj, meskipun kegiatan-kegiatan sejenis sangat “tabu” dilakukan kalangan ulama dan penguasa Arab Saudi karena perbedaan ideologi. Ini menunjukkan betapa terhormatnya nama Syekh Junaid al-Betawi di kalangan keluarga kerajaan, bahkan hingga saat ini, menunjukkan pengaruh spiritual dan sosialnya yang melampaui batas-batas politik dan mazhab.
Saking dihormatinya Syekh Junaid di Makkah, Buya Hamka (dalam Shahab, 2009) menulis, ketika Syarif Ali (putra Syarif Husin) ditaklukkan oleh Ibnu Saud, salah satu syarat penyerahannya adalah meminta “keluarga Syekh Junaid tetap dihormati setingkat dengan keluarga Raja Ibnu Saud.” Persyaratan ini diterima oleh Ibnu Saud, sebuah pengakuan yang tak ternilai harganya atas kontribusi dan kedudukan Syekh Junaid dalam sejarah Islam.
Akhir Hayat dan Warisan yang Tak Lekang Oleh Waktu
Sama halnya dengan tahun kelahirannya, tahun meninggalnya Syekh Junaid juga tak diketahui pasti. Menurut Direktur Islam Nusantara Center (INC), A Ginanjar Sya’ban, beliau meninggal pada akhir abad ke-19 Masehi. Adapun makam Syekh Junaid, kata Dosen Filologi dari Universitas Padjajaran itu, berada di kompleks Pemakaman Al-Ma’la, tak jauh dari Masjidil Haram, tempat pemakaman para tokoh besar Islam.
Alwi Shahab, budayawan Betawi, menulis tahun 1840 M sebagai tahun wafat Syekh Junaid di usianya yang ke 100 tahun di Tanah Suci. Namun, Ridwan Saidi meragukan analisis ini, karena pada tahun 1894-1895, ketika Snouck Hurgronje berhasil menyusup ke Makkah, Syekh Junaid diketahui masih hidup dalam usia yang sangat lanjut. Perbedaan data ini tidak mengurangi keagungan Syekh Junaid, justru menambah misteri dan kekaguman akan usianya yang panjang dan produktif.
Terlepas dari semua fakta ini, Syekh Junaid merupakan sosok teladan hebat yang mengabdikan sebagian besar usianya demi perkembangan khazanah Islam. Berkat kiprahnya yang sangat harum di dunia Islam internasional, nama Betawi pun turut harum. Syekh Junaid al-Batawi menjadi sosok yang sangat dihormati dan kini namanya diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta Barat, menggantikan nama Jalan Lingkar Luar Barat di Rawa Buaya, Cengkareng.
Kisah Syekh Junaid al-Batawi adalah pengingat yang kuat bahwa kekayaan intelektual dan spiritual masyarakat Betawi jauh melampaui stereotip yang ada. Beliau adalah bukti nyata bahwa Indonesia, khususnya Betawi, telah melahirkan ulama-ulama besar yang berperan penting dalam peta keilmuan Islam dunia. Semoga kisah inspiratif ini dapat memotivasi kita untuk terus menggali dan menghargai warisan intelektual para leluhur. [wallahu a’lam bish showab]
Pada pagi yang semula biasa saja, 12 Juni 2025, pesawat Air India AI171 lepas landas dari Bandara Internasional Sardar Vallabhbhai Patel di Ahmedabad, India, menuju London Gatwick, Inggris. Namun hanya dalam 60 detik setelah take-off, pesawat itu terjun bebas dan meledak.
Awalnya pesawat sempat menanjak hingga ketinggian sekitar 400 meter sebelum tiba-tiba menukik tajam dan menghantam asrama BJ Medical College di kawasan Meghaninagar. Seluruh 241 jiwa di dalamnya —229 penumpang dan 12 kru— tewas seketika. Kecuali satu orang.
Ya, satu-satunya yang selamat adalah Viswash Kumar Ramesh, warga negara Inggris keturunan India. Seorang pebisnis biasa, suami, dan ayah dari satu anak. Entah karena keberuntungan, karma, atau ironi alam semesta, pagi itu ia duduk di kursi nomor 11A.
Viswash tengah dalam perjalanan pulang ke London setelah mengunjungi India bersama kakaknya, Ajay Kumar Ramesh, yang pagi itu duduk di kursi 11J —di seberang lorong pesawat. Mereka tadinya berharap bisa duduk berdampingan, tapi takdir menentukan lain.
Ketika reruntuhan pesawat masih berasap dan Viswash diseret petugas medis ke ambulans, tubuhnya penuh luka bakar dan darah. Dalam keadaan setengah sadar, ia berteriak: “Plane fatyo che! Plane fatyo che!” (Pesawatnya jatuh!) Matanya terus mencari Ajay. Tapi Ajay tak pernah ditemukan dalam keadaan hidup.
Awalnya, beredar kabar bahwa Viswash selamat karena melompat dari pintu darurat. Namun hasil investigasi menunjukkan bahwa ia masih duduk dengan sabuk pengaman terpasang. Tubuhnya terlempar utuh ke luar badan pesawat, seperti boneka dari dalam kotak logam yang hancur. Petugas medis kemudian mengevakuasinya ke ambulans.
Dan inilah kisah Viswash, menurut penuturannya sendiri:
-000-
Setiap kali naik pesawat, saya selalu menghindari duduk di dekat pintu darurat. Pintu yang selalu disebut-sebut pramugari dengan banyak tanggung jawab, sesaat sebelum landas. Tapi mungkin sudah suratan, pagi itu saya mendapat kursi 11A —tepat di sebelah pintu darurat kiri.
Kursi itu berada di baris pertama kelas ekonomi, persis di belakang kabin bisnis. Duduk di sana berarti saya harus siap mengambil tindakan penyelamatan jika terjadi sesuatu. Saya tak pernah menyangka, tanggung jawab itu benar-benar datang —bukan dalam bentuk membuka pintu, tapi dalam bentuk menyelamatkan hidup saya.
Pada mulanya, saat pesawat mulai bergerak di landasan, saya melihat lampu-lampu hijau dan putih menyala. Mesin mulai menderu saat memasuki titik pacu untuk segera lepas landas. Saya menarik napas dalam-dalam, membayangkan _scone$ dan teh hangat di London.
Namun detik ke-30 setelah take-off, segalanya berubah. “It all happened so quickly…”, begitu saya berkata kepada media.
Terdengar dentuman besar. Jeritan. Api berkobar seperti neraka. Logam melengking, hancur berkeping-keping. Dunia seperti berhenti.
Tiba-tiba saya sudah berada di luar pesawat, tergeletak di antara kepingan logam. Saya pikir saya mati. Tapi tidak. Saya meraba tubuh saya. Masih ada. Saya coba membuka mata lebar-lebar. Sekitar saya: tubuh-tubuh manusia, terbakar, terlempar, terdiam.
Saya berusaha berdiri —atau mungkin tubuh saya berdiri sendiri tanpa izin. Saya juga mencoba lari, tapi tidak bisa. Saya tak tahu harus ke mana. Tapi saya tahu satu hal: saya masih hidup. Tubuh saya masih utuh.
Saya tak sempat berpikir macam-macam. Saya coba merangkak, tapi sulit. Bau gosong dan daging terbakar menyengat. Tangan saya ikut terbakar —saya baru menyadarinya belakangan. Yang saya tahu, kalau saya tetap diam, saya akan ikut menjadi abu.
Dalam wawancara dengan Doordarshan, saya menjelaskan: bagian pesawat tempat saya duduk bukanlah sisi yang menghantam langsung ke gedung asrama di saat pesawat jatuh. Justru bagian itu jatuh ke lantai dasar bangunan, menciptakan ruang kosong di antara reruntuhan.
Ruang itulah yang menyelamatkan saya. Ketika pintu darurat di samping saya terlepas, saya melihat celah untuk keluar. Secara refleks saya bergerak, merangkak keluar menuju cahaya. Itulah yang menyelamatkan hidup saya.
Berbeda dengan sisi tempat Ajay duduk. Pesawat yang jatuh menghantam langsung dinding beton. Tidak ada ruang tersisa. Tidak ada jalan keluar. Hanya kehancuran.
Saya sadar, selisih beberapa kursi —bahkan hanya selebar lorong pesawat— bisa menjadi batas antara hidup dan mati.
Saya tak tahu mengapa hanya saya yang selamat. Tapi saya ingat betul: saat api mulai melahap reruntuhan, tangan kiri saya ikut terbakar. Tapi saya tak merasakannya. Rasa takut jauh lebih besar dari rasa sakit.
Saya terus berusaha merangkak keluar dari puing dan api. Lalu ingin berlari, entah ke mana, seolah hidup saya bergantung pada napas berikutnya —karena memang begitu kenyataannya.
Saya melihat tubuh-tubuh tergeletak. Beberapa masih utuh, sebagian tidak. Semuanya diam. Dunia sunyi. Hanya ada suara api dan napas saya sendiri. Langit gelap.
Saya ingat tadi ada seorang wanita tua duduk tak jauh dari saya. Masih mengenakan sabuk pengaman. Tapi dia tidak bergerak. Melihat itu, saya seketika menjerit: “Plane fatyo che!” Saya tak tahu apakah saya masih waras. Mungkin tidak.
Tiba-tiba seseorang memeluk saya dari belakang dan menarik saya ke ambulans. Saat itulah saya menangis. Untuk pertama kalinya. Bukan karena sakit —tapi karena Ajay tak ada di sana.
Sekarang saya berbaring di ranjang nomor 11, Bangsal B7, Rumah Sakit Sipil Ahmedabad. Nomer yang sama dengan kursi saya di pesawat. Saya dijaga polisi. Diberi kunjungan oleh Perdana Menteri. Dikerumuni wartawan.
Semua bertanya, “Bagaimana Anda bisa selamat?” Saya jawab, “Saya tidak tahu.” Mungkin karena saya duduk di tempat yang “tepat”. Mungkin karena badan pesawat saya jatuh ke bagian lantai dasar, bukan yang meledak. Mungkin karena Tuhan sedang bercanda hari itu. Atau mungkin, hanya mungkin, agar saya bisa menceritakan ini pada Anda.
Bahwa hidup ini kadang di luar kendali kita. Bahwa kematian pasti datang tak peduli apakah kita siap atau tidak. Bahwa bahkan dengan teknologi canggih dan prosedur keselamatan yang ketat, kita tetap hanya manusia —bergantung pada doa, takdir, keberuntungan, cinta… dan sabuk pengaman.
Dan jika Anda pernah duduk di kursi pintu darurat —jangan hanya merasa istimewa. Pelajari benar-benar cara membukanya. Karena mungkin, hanya mungkin, hidup Anda bergantung pada jendela kecil yang bisa terbuka di tengah reruntuhan.
Sungguh, saya tak tahu kenapa saya satu-satunya yang hidup. Tapi saya tahu satu hal: saya harus hidup untuk tidak melupakan. Tidak melupakan mereka yang tak sempat keluar. Tidak melupakan suara dentuman itu. Dan tidak melupakan betapa tipisnya garis antara hidup dan mati —kadang hanya setebal label kursi 11A.
Dan saya berjanji: saya akan hidup untuk dunia yang lebih baik.
Cak AT – Ahmadie Thaha Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 15/6/2025
Kali ini, Israel mengambil inisiatif menyerang Iran. Serangan ini secara resmi digambarkan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dan oleh Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, sebagai “serangan preemptif” — tindakan yang diambil sebelum ancaman berubah menjadi kenyataan hancur-hancuran.
Menurut Kepala Staf IDF, Letjen Eyal Zamir, serangan yang disiapkan delapan bulan ini muncul karena situasi telah “mencapai titik tanpa jalan kembali.” Intelijen Israel meyakini bahwa program senjata nuklir Iran telah berkembang pesat hingga menjadi ancaman eksistensial. Israel ketakutan eksistensinya dilenyapkan oleh Iran.
Netanyahu yakin, Iran punya cukup uranium yang diperkaya untuk membuat sembilan bom nuklir, dan mungkin lebih banyak dari yang dilaporkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Iran diduganya sedang mempercepat langkah menuju weaponization —yakni membangun senjata nuklir itu sendiri.
Ditambah dengan program misil balistik Iran yang berkembang pesat, negara kecil Israel makin ketakutan. Jika dibiarkan, misil-misil ini pun akan menjadi ancaman eksistensial tersendiri karena kemampuan mereka untuk menembus sistem pertahanan Israel. Dan ini terbukti dalam serangan balasan Iran, dengan menarget Tel Aviv.
Maka, dalam serangan Jumat (13/6/2025), Israel membuat target membunuh 25 ilmuwah nuklir Iran, yang keberadaan mereka sudah dipetakan. Namun, dari 25 target, hanya dua orang saja yang “berhasil” mereka bunuh. Ini berarti hanya 8% keberhadilan, alias gagal total. Bayangkan, betapa besar kerugian Israel dalam perang kali ini.
Israel, dalam narasi yang sering diperdengarkan ke dunia internasional, menyerang Iran karena ketakutan jika program senjata nuklir Iran membuahkan “cendol plutonium” yang bisa menyasar Tel Aviv. Masalahnya, pendekatan ini seperti mencoba mematikan listrik sebuah kota dengan menembaki bola lampu satu per satu.
Padahal, saintis boleh mati, tapi pengetahuan tak pernah bisa dibunuh. Menurut data yang dikutip dari Bulletin of the Atomic Scientists, pembunuhan ilmuwan nuklir Iran yang sudah dilakukan banyak negara dengan beragam cara, termasuk meracun, selama ini tidak membuat program nuklir mereka mandek.
Faktanya, program nuklir Iran tetap jalan terus. Tak ada kamus berhenti, sebab negara lain juga tak berhenti. Para saintis mereka banyak, pasti lebih dari 25 orang. Jadi, membunuh dua saintis mereka tak ubahnya seperti memotong satu kabel USB di kantor Google. Besoknya, ada 50 kabel baru yang muncul —dan lebih cepat, lebih aman, lebih efisien.
Strategi “serang otak, bukan bom” ini sudah tua dan usang. Bahkan sejak era Perang Dunia II, Sekutu sudah mencoba membunuh Werner Heisenberg —ilmuwan Jerman yang dicurigai jadi otak bom atom Nazi. Tapi bahkan Moe Berg, agen OSS yang disuruh menembaknya, memutuskan tidak jadi menembak.
Moe Berg beralasan, ia tak yakin apakah Heisenberg benar-benar membuat bom. Dia masih pakai akal sehat, dengan menelusuri fakta-fakta yang dituduhkan kepada target. Hasil akhirnya? Nazi sendiri tak pernah pakai bom. Justru bom atom Amerika Serikat yang kemudian menghanguskan Hiroshima dan Nagasaki.
Jadi, siapa yang berhenti? Tidak ada. Malahan Amerika yang tampil. Yang menarik, jika tujuan utama pembunuhan saintis adalah menghentikan proliferasi senjata nuklir, maka dunia adalah saksi kegagalan monumental strategi ini. Serangan Israel terhadap Iran hanya akan mempercepat kehancuran mereka sendiri.
Lagi pula, Iran bukan satu-satunya negara yang bikin dunia deg-degan. Di Asia saja, ada India dan Pakistan yang punya senjata nuklir, dan dua negara ini saling melotot di atas garis Kashmir seperti dua kucing lapar di dapur sempit. Korea Utara? Punya senjata nuklir, parade misil, dan kadang meluncurkan roket seperti main petasan tahun baru.
Israel sendiri? Tidak pernah secara resmi mengakui. Istilahnya: “Saya tak punya, tapi jangan coba-coba!” Diperkirakan, Israel punya 90+ hulu ledak nuklir. Bahkan, sebanyak 200 senjata nuklir pernah dilaporkan berada dalam persenjataan mereka.
Bagaimana dengan Rusia, AS, Tiongkok, Prancis, Inggris? Mereka ini klub elit yang bukan cuma punya bom atom, tapi punya langganan perawatan dan upgrade tahunan. Bahkan US Nuclear Posture Review 2022 mengisyaratkan modernisasi arsenal nuklir —karena tampaknya bom nuklir tahun 80-an sudah tak sesuai tren.
Jadi, kalau kita bicara menghentikan proliferasi persenjataan nuklir seperti yang dituduhkan Israel terhadap Iran dengan cara membunuh ilmuwan, hasilnya seperti menyemprot air ke kebakaran hutan —dengan parfum. Gagal total. Malahan, Tel Aviv langsung menerima serangan balasan tanpa ampun.
Ada juga pertanyaan penting: Di mana moralitas kita saat membunuh orang-orang yang, secara teknis, bukan kombatan? Pembunuhan ilmuwan —yang bekerja di laboratorium, bukan di medan perang— menunjukkan bahwa batas etika dalam geopolitik makin kabur. Hari ini saintis, besok siapa? Guru matematika? Pakar AI?
Kenyataan pahitnya adalah: dunia ingin hidup tanpa ancaman nuklir, tapi tak ada satu pun yang mau jadi negara pertama yang meletakkan bomnya di museum. Israel sendiri masih menyembunyikan bom mereka seolah tak punya.
Semua pihak bicara tentang non-proliferasi, tapi semua juga bilang, “Tapi jangan saya duluan ya, jaga-jaga aja.” Ini seperti pesta makan malam di mana semua tamu bawa pisau, tapi semua bilang niatnya hanya untuk memotong steak.
Maka, jika ada satu pelajaran dari aksi Israel terhadap Iran, dan sejarah panjang percobaan pembunuhan saintis nuklir dari Heisenberg hingga Fakhrizadeh, adalah ini: Pengetahuan tidak bisa dibunuh. Ia menyebar, berkembang, dan bahkan ketika otaknya disingkirkan, tubuhnya terus melangkah.
Dan satu hal lagi: Jika kamu ilmuwan nuklir, mungkin sebaiknya jangan pakai sepeda motor atau terlalu dekat dengan mobil. Tapi lebih penting lagi, jika kamu pengambil kebijakan, cobalah berhenti berpikir bahwa dunia akan lebih aman hanya karena kamu menghapus satu nama dari daftar saintis.
Karena pada akhirnya, dunia ini bukan soal siapa yang bisa membunuh paling cerdas, walau dengan alasan mengada-ada. Tapi, siapa yang bisa berpikir paling berani —dan benar-benar ingin perdamaian, bukan sekadar ilusi kontrol dalam bentuk ledakan nuklir miniatur.
Referensi:
William Tobey, Bulletin of the Atomic Scientists, 27 November 2020.
Israel’s Secret Wars oleh Ian Black dan Benny Morris.
Thomas Powers, Heisenberg’s War.
Data nuklir dunia dari SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute).
Berita dan laporan dari Aljazeera, Washington Post, Time, dan New York Times.
GRESIK – Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Jawa Timur dan sekitarnya memadati Pondok Pesantren Al-Karimi, Tebuwung, Dukun, Gresik, hari ini, Rabu (11/6/2025), dalam rangka memperingati Haul ke-133 KH. Abdul Karim Tebuwung. Acara tahunan ini tak hanya mengenang sosok ulama kharismatik berjuluk “Sunan Drajat Tebuwung,” tetapi juga secara khusus menyoroti harmonisasi dan sinergi perjuangan beliau bersama sang istri, Nyai Mas Amirah binti Raden Jamilun, yang merupakan cucu Bupati Sidayu, serta keturunan Sunan Drajat dan Sayyid Qinan, dalam menghadapi tantangan dakwah dan penindasan kolonial, serta jejak rekam keturunan beliau dalam mengemban estafet dakwah melalui pesantren.
Acara haul diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan dengan tahlil serta doa bersama yang dipimpin oleh para kyai dan habaib. Suasana khidmat terasa kental, diiringi lantunan shalawat yang mengajak jamaah merenungi perjalanan hidup dan dakwah kedua tokoh sentral ini.
Dalam kesempatan dan tempat yang lain , Ketua Umum Jam’iyyah Walisongo Nusantara (JAWARA), KH. Munawwir Al-Qosimi, yang banyak mengisahkan cerita ini, secara gamblang memaparkan tentang sosok KH. Abdul Karim Tebuwung. Beliau lahir di Drajat, Lamongan, pada 11 Syawal 1245 H (5 April 1830), dan merupakan keturunan langsung dari Sunan Drajat. KH. Abdul Karim mengabdikan hidupnya untuk menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci Makkah, di mana beliau berguru kepada ulama-ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, dan Syekh Nawawi al-Bantani. Sanad inti keilmuan beliau adalah dari Sunan Drajat dan Sunan Ampel dan lainnya sanad sekunder.
Perlawanan Terhadap Penjajah dan Pengorbanan Nyai Mas Amirah
KH. Munawwir Al-Qosimi lantas menekankan bahwa perjuangan dakwah KH. Abdul Karim tidak bisa dilepaskan dari peran vital Nyai Mas Amirah binti Raden Jamilun. “Beliau adalah sosok di balik kesuksesan dakwah Kiai Abdul Karim. Keduanya adalah pasangan yang saling melengkapi, saling mendukung dalam suka dan duka,” ungkap KH. Munawwir.
Nyai Mas Amirah memiliki latar belakang yang istimewa. Beliau adalah putri dari Raden Jamilun. Raden Jamilun sendiri merupakan putra dari Kanjeng Sepuh Sidayu (Raden Adipati Suryo Diningrat/Suryo Adiningrat) yang menikah dengan Dewi Wardah. Dewi Wardah ini adalah putri dari Sayyid Qinan. Dengan demikian, Nyai Mas Amirah merupakan cucu seorang Bupati Sidayu, memiliki trah kebangsawanan Mangkunegaran Solo, serta keturunan dari Sunan Drajat (melalui jalur Sayyid Qinan). Latar belakang kebangsawanan dan keilmuan yang kuat ini menunjukkan betapa besar pengorbanan beliau meninggalkan kenyamanan hidup demi berjuang bersama sang suami.
Salah satu babak kelam namun heroik dalam perjalanan hidup mereka sebelum pindah ke Tebuwung dan mendirikan pesantren adalah ketika pemerintah kolonial Belanda berniat mengangkat KH. Abdul Karim sebagai mufti Surabaya atau qodhi di kadipaten Sidayu. Beliau menolak tawaran tersebut dengan tegas, yang sontak memicu kemarahan Belanda. Sebagai bentuk tekanan, Belanda menyandera salah satu putri beliau di Sidoresmo, Surabaya.
Tak gentar, KH. Abdul Karim yang dikenal dengan keilmuan dan karomahnya, bersama keluarganya, menunjukkan perlawanan sengit. “Kiai Abdul Karim dan Nyai Mas Amirah sampai mengobrak-abrik pasukan Belanda di daerah yang kini dikenal sebagai Jalan KH. Abdul Karim, Gresik,” kisah KH. Munawwir. Namun, karena kalah jumlah, akhirnya beliau bersama Nyai Mas Amirah dan anak-anak beliau yang masih kecil-kecil, yaitu Muhammad Zahid, Ishaq, Maimunah, dan Shofiyah, ditangkap dan dipenjara di Surabaya.
Keluarnya KH. Abdul Karim dan keluarganya dari penjara bukanlah hal mudah. Ini berkat negoisasi yang dilakukan oleh Raden Jamilun, ayah dari Nyai Mas Amirah, dengan pimpinan Belanda pada masa itu. Kisah ini menjadi bukti nyata keteguhan keluarga ulama dalam mempertahankan prinsip dan agama di tengah tekanan penjajah.
Pondasi Pesantren: Kedermawanan Warga Tebuwung dan Semangat Nyai Mas Amirah
Setelah dibebaskan, KH. Abdul Karim menerima amanah untuk membina masyarakat Tebuwung Dukun Gresik, Jawa Timur. Pada tahun 1863, Pak Utsman/Warjo, Kepala Desa Tebuwung yang masih sepupu Nyai Mas Amirah, berinisiatif mencari seorang ulama untuk membina masyarakatnya. Melalui musyawarah dengan Nyai Mas Amirah dan KH. Abdul Karim, serta menghadap Adipati Sidayu, diputuskanlah bahwa KH. Abdul Karim akan membina masyarakat Tebuwung dan sekitarnya yang kala itu masih menganut Kapitayan, Hindu, dan Buddha.
Untuk mendukung misi dakwah ini, Pak Utsman dan keluarganya bersepakat untuk mewakafkan tanah di bagian Timur Desa Tebuwung kepada KH. Abdul Karim. Para dermawan yang turut serta memberikan tanah tersebut antara lain:
Utsmam, Warjo
Karmin
Karneman (Kareman)
Nur (Tirem)
Darsinan/Khodijah
Kasiman (lowayu)
Ngajidin
Lukinah
Di tanah wakaf inilah kemudian KH. Abdul Karim bersama keluarga mulai mendirikan musholla dan pesantren. Selama masa awal pembangunan ini, KH. Abdul Karim sekeluarga sering melakukan tirakat puasa mutih, sebuah bentuk riyadhah spiritual yang kuat untuk memohon keberkahan dan kemudahan dalam menghadapi tantangan dakwah yang berat.
“Ketika pesantren dilanda kesulitan finansial akibat paceklik, Nyai Mas Amirah-lah yang berinisiatif kembali berdagang garmen untuk menggerakkan perekonomian pesantren,” tambah KH. Munawwir. “Bahkan, beliau tak segan-segan pulang pergi Tebuwung-Sidayu dengan menaiki kuda, memastikan pasokan barang dagangan dan mendukung penuh kebutuhan pesantren. Ini adalah pengorbanan luar biasa dari seorang cucu Bupati dan trah bangsawan yang bersemangat juang.”
Hasil keuntungan dari bisnis garmen Nyai Mas Amirah digunakan sepenuhnya untuk pesantren dan membantu masyarakat yang kekurangan. Bahkan, demi keberlangsungan dakwah, beliau dengan ikhlas dan mulia merelakan Kiai Abdul Karim menikah lagi.
Setelah Kiai Abdul Karim menikah lagi. Nyai Amirah bertambah tekun mengajar di Pesantren dan masyarakat serta berbisnis di Sedayu. Tidak ada ceritanya kalau Nyai Mas Amirah tidak betah di Tebuwung. Beliau sangat menikmati Tebuwung karena sejak kecil, bersama ibunya ada di Tebuwung dan banyak keluarga beliau di Tebuwung, seperti Pak Warjo Sekeluarga.
Estafet Dakwah: Jejak Keturunan dalam Membangun Pesantren
Pengorbanan dan dedikasi Nyai Mas Amirah ini menunjukkan bahwa beliau adalah pilar penting dalam pendirian dan perkembangan Pondok Pesantren Tebuwung. Meskipun Nyai Mas Amirah wafat lebih dahulu pada tahun +1890 dan dimakamkan di komplek keluarga Kanjeng Sepuh Sidayu, semangatnya terus menginspirasi.
KH. Abdul Karim Tebuwung sendiri wafat pada hari Selasa Legi, 27 Dzulhijah 1313 H (9 Juni 1896), dalam usia 66 tahun, dan dimakamkan di Tebuwung, berdampingan dengan Petinggi Utsman. Estafet kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh putra beliau.
Pengganti KH. Abdul Karim Tebuwung adalah putra beliau, KH. Muhammad Zahid (lahir tahun +1858), yang pada saat itu berusia 38 tahun. KH. Muhammad Zahid melanjutkan perjuangan ayahnya hingga wafat pada hari Senin Pon, 13 Jumadil Akhir 1321 H (20 Mei 1913), dalam usia 55 tahun.
Jejak rekam keturunan KH. Abdul Karim Tebuwung dalam dunia pesantren sangatlah luar biasa. Banyak dari putra-putri dan cucu-cucu beliau yang mengikuti jejak langkahnya dalam berdakwah dan mendirikan lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah, antara lain:
Pesantren Sunan Drajat al-Qosimiyyah, Parung, Bogor, diasuh oleh KH. Muhamad Munawwir al-Qosimi, keturunan KH. Muhammad Zahid.
Pesantren Al-Hidayah, Tarik Krian Sidoarjo, diasuh oleh KH. Muhammad Taufiq, keturunan KH. Muhammad Zahid.
Pesantren al-Islah, Rengel Tuban, diasuh oleh KH. Muhammad Ishomuddin, keturunan KH. Muhammad Zahid.
Pesantren Al-Muniroh, Ujung Pangkah, diasuh oleh keturunan Nyai Maimunah binti Abdul Karim.
Pesantren al-Karimi, Tebuwung Dukun Gresik, diasuh oleh KH. Abdul Muhsi, keturunan KH. Murtadho (putra dari istri kedua KH. Abdul Karim, Nyai Khadijah).
Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji, diasuh oleh keturunan KH. Musthofa (putra dari istri kedua KH. Abdul Karim).
Pesantren Qomarudin Bungah, diasuh oleh KH. Alauddin dari jalur KH. Musthofa.
Pesantren al-Amin, Tunggul, diasuh oleh KH. Abdul Fattah, dari jalur KH. Musthofa.
Haul ke-133 ini menjadi momentum untuk merefleksikan nilai-nilai kebersamaan dan pengorbanan yang dicontohkan oleh KH. Abdul Karim dan Nyai Mas Amirah, sebuah pasangan yang tak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membangun pondasi peradaban melalui pendidikan dan keteladanan, yang kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh generasi penerus mereka. Wallahu’ Alam bishowab.
Walisongo.net – Kabar mengejutkan datang dari Tanah Suci yang berpotensi mengubah peta penyelenggaraan ibadah haji bagi Indonesia di tahun 2026. Pemerintah Arab Saudi mewacanakan pemangkasan kuota haji Indonesia hingga 50 persen. Sebuah wacana yang jika terealisasi, akan berdampak sangat besar mengingat Indonesia adalah negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia. Informasi krusial ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) setelah menjalani pertemuan penting dengan Deputi Menteri Haji Arab Saudi di Jeddah pada Selasa, 10 Juni 2025.
Berbagai media nasional terkemuka, termasuk Republika.co.id, Kompas.com, Detikcom, Tempo.co, dan CNN Indonesia, secara serentak menyoroti isu ini. Mereka melaporkan bahwa wacana pemangkasan tersebut merupakan respons tegas Saudi atas evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan haji 2025. Gus Irfan menjelaskan bahwa meskipun kuota resmi haji untuk tahun depan belum ditetapkan—yang lazimnya diumumkan setelah musim haji berakhir—dinamika dan berbagai persoalan yang muncul pada musim haji sebelumnya menjadi pertimbangan utama pihak Saudi.
“Ada wacana pengurangan kuota hingga 50 persen oleh pihak Saudi. Kami sedang melakukan negosiasi, karena manajemen haji tahun depan akan beralih dari Kementerian Agama ke BP Haji,” ujar Gus Irfan dalam siaran persnya, sebagaimana dikutip oleh Detikcom. Peralihan manajemen ini diharapkan akan membawa sistem baru yang lebih adaptif dan responsif, mampu menjawab berbagai tantangan, khususnya dalam aspek pelayanan dan keselamatan jemaah, sejalan dengan visi reformasi manajemen haji Indonesia yang sedang digalakkan.
Sorotan Tajam Terhadap Transparansi Data Kesehatan dan Insiden Kematian Jemaah
Salah satu persoalan utama yang menjadi sorotan tajam dan kekhawatiran mendalam dari Pemerintah Arab Saudi adalah kurangnya transparansi data kesehatan jemaah asal Indonesia. Seperti diungkapkan Kompas.com dan Tempo.co, pihak Saudi sangat prihatin dengan peningkatan jumlah jemaah wafat yang diduga tidak dalam kondisi sehat saat keberangkatan. Kekhawatiran ini kian memuncak dengan adanya kasus jemaah yang meninggal dunia bahkan saat masih dalam perjalanan pesawat menuju Tanah Suci. “Why do you bring people to death here?” ucap perwakilan Kementerian Haji Saudi dalam diskusi tersebut, sebuah pernyataan yang menggarisbawahi urgensi validasi kondisi kesehatan jemaah sebelum berangkat.
Pembentukan Tim Gabungan dan Implementasi Regulasi Ketat Baru
Sebagai langkah konkret dan responsif terhadap kondisi ini, Arab Saudi mendorong pembentukan task force bersama Indonesia untuk mempersiapkan musim haji 2026. Tim gabungan ini akan memiliki fokus utama pada validasi ketat data jemaah, khususnya terkait istithaah (kemampuan fisik dan kesehatan). Selain itu, pengelolaan logistik krusial seperti penerbangan, akomodasi, konsumsi, dan penyediaan tenda di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) juga akan menjadi area pengawasan intensif. Hal ini menunjukkan keinginan Saudi untuk memastikan setiap detail layanan memenuhi standar terbaik.
Tidak hanya itu, Detikcom dan Tempo.co juga melaporkan bahwa Pemerintah Arab Saudi berencana mengimplementasikan sejumlah regulasi baru yang jauh lebih ketat. Di antaranya adalah pembatasan jumlah syarikah (perusahaan penyedia layanan haji) maksimal hanya dua perusahaan, sebuah langkah untuk memfokuskan dan mengontrol kualitas layanan. Pengawasan ketat juga akan diberlakukan terhadap standar hotel, porsi dan kualitas makanan, serta jumlah kasur per jemaah, dengan tujuan menciptakan kondisi yang lebih nyaman dan aman. “Semua aspek layanan akan dikontrol bersama oleh task force Indonesia-Saudi,” tambah Gus Irfan, menandakan era kolaborasi pengawasan yang lebih mendalam.
Kebijakan penting lain yang ditegaskan adalah terkait pelaksanaan dam (denda atau fidyah), yang hanya diperbolehkan di dua tempat yang disetujui: di negara asal jemaah atau melalui perusahaan resmi yang ditunjuk kerajaan di Arab Saudi, yaitu Ad-Dhahi. Pelanggaran terhadap kebijakan ini akan dikenakan sanksi tegas, menunjukkan komitmen Saudi dalam penegakan aturan.
Kesiapan BP Haji Menghadapi Tantangan Berat dan Negosiasi Intensif
Menanggapi wacana pemangkasan kuota dan pemberlakuan regulasi baru yang ketat ini, Gus Irfan menegaskan kesiapan BP Haji untuk melakukan reformasi menyeluruh dalam sistem manajemen haji Indonesia. “Kami ingin memastikan jemaah Indonesia berangkat dalam kondisi layak dan mendapatkan pelayanan terbaik. Karena itu, komunikasi intensif dengan otoritas Saudi akan terus kami lakukan,” tegas Gus Irfan, menggarisbawahi pentingnya dialog berkelanjutan dan adaptasi strategis.
Meskipun kuota haji 2025 telah ditetapkan sebesar 221.000 jemaah (seperti dilaporkan oleh Antara News dan Jakarta Globe pada awal tahun 2025), wacana pemangkasan untuk 2026 ini menjadi perhatian serius dan prioritas utama pemerintah. Mengingat status Indonesia sebagai negara dengan jumlah pengirim jemaah haji terbesar di dunia, upaya diplomasi yang kuat, perbaikan manajemen haji yang komprehensif, dan adaptasi terhadap tuntutan Saudi akan menjadi kunci untuk memastikan pelayanan terbaik serta kuota yang optimal bagi jemaah haji Indonesia di masa mendatang.
Pernahkah kita merenungkan siapa diri kita sesungguhnya? Tak hanya sekadar jasad, manusia adalah entitas kompleks dengan dimensi spiritual yang mendalam. Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya Ulumiddin, mengupas tuntas empat elemen fundamental yang membentuk hakikat diri kita: hati (qalb), ruh, nafsu, dan akal. Pemahaman yang keliru tentang keempatnya bisa jadi pangkal berbagai masalah dalam hidup. Yuk, kita selami lebih dalam!
Hati: Lebih dari Sekadar Gumpalan Daging
Ketika kita bicara hati, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada organ pemompa darah di dada kiri. Itu benar, namun Al-Ghazali menyebutnya hati jasmani. Hati ini hanyalah seonggok daging yang bahkan dimiliki hewan dan orang mati. Fungsinya lebih kepada aspek medis, bukan spiritual.
Al-Ghazali mengajak kita melihat hati dalam makna kedua, yaitu latifah rabbaniyah ruhaniyah (substansi halus yang bersifat ketuhanan dan rohani). Inilah hakikat sejati manusia, yang memahami, mengetahui, dan mengenal. Ia yang diajak bicara Tuhan, yang akan dihisab, ditegur, dan dituntut. Keterkaitannya dengan hati jasmani ini sangat misterius, begitu halusnya sehingga sulit dijangkau akal. Ibaratnya, seperti sifat yang melekat pada benda, atau pengguna alat dengan alatnya. Inilah yang kita sebut “hati” dalam konteks spiritual, yang perlu kita kenali sifat dan keadaannya agar bisa berinteraksi (bermuamalah) dengan baik.
Ruh: Energi Kehidupan dan Hakikat Diri
Kata ruh juga memiliki dua makna. Pertama, ruh jasmani, yaitu uap halus yang bersumber dari rongga hati jasmani, lalu menyebar ke seluruh tubuh melalui urat nadi. Ruh ini yang memberikan kehidupan, indra perasa, penglihatan, pendengaran, dan penciuman pada anggota tubuh kita. Ini adalah domain para dokter yang mengobati fisik.
Namun, yang lebih penting bagi kita adalah ruh dalam makna kedua, yaitu latifah yang memahami dan mengetahui. Ini sama dengan hati spiritual yang dibahas sebelumnya. Inilah yang Allah maksudkan dalam firman-Nya:
قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي
“Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.'” (QS. Al-Isra’: 85)
Ini adalah urusan ketuhanan yang begitu agung, sehingga banyak akal tidak mampu memahami hakikatnya secara mendalam.
Nafsu: Musuh Terbesar atau Kekuatan Pendorong?
Nafsu seringkali menjadi kambing hitam atas segala keburukan. Benar, dalam satu makna, nafsu memang merujuk pada kekuatan amarah (ghadab) dan syahwat (hasrat) yang menjadi sumber sifat-sifat tercela dalam diri manusia. Para sufi sering mengatakan, “Tidak ada pilihan lain kecuali memerangi nafsu dan menghancurkannya.” Inilah musuh terbesar kita, yang berdiam di antara dua lambung kita, sebagaimana disabdakan Nabi ﷺ:
“Musuhmu yang paling memusuhi adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Kitab Az-Zuhd dari hadis Ibnu Abbas)
Namun, Al-Ghazali juga menjelaskan nafsu dalam makna kedua, yaitu hakikat sejati manusia itu sendiri, yang kita sebut jiwa atau diri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berbeda tergantung keadaannya:
Nafsu Muthmainnah (Jiwa yang Tenang): Jiwa yang tunduk pada perintah Allah dan terbebas dari gejolak syahwat. Inilah jiwa yang dipanggil kembali kepada Tuhan dengan rida dan diridai, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.” (QS. Al-Fajr: 27-28)
Nafsu Lawwamah (Jiwa yang Mencela): Jiwa yang belum sepenuhnya tenang, namun mulai melawan nafsu syahwat dan mencela diri sendiri saat berbuat salah atau lalai, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah: 2)
Nafsu Ammarah bis-Su’ (Jiwa yang Memerintahkan Keburukan): Jiwa yang menyerah pada tuntutan syahwat dan bujuk rayu setan, seperti yang Allah firmankan, mengisahkan tentang Nabi Yusuf AS atau istri Al-Aziz:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53)
Jadi, nafsu dalam makna pertama (ghadab dan syahwat) adalah tercela, sedangkan nafsu dalam makna kedua (hakikat diri) adalah terpuji karena ia adalah esensi diri kita yang mampu mengenal Allah.
Akal: Cahaya Pengetahuan dan Pemahaman
Terakhir, akal. Kata ini juga memiliki dua makna:
Akal sebagai ilmu: Yaitu pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu, yang tempatnya di hati spiritual.
Akal sebagai yang memahami ilmu: Yaitu hati spiritual itu sendiri, sebagai entitas yang mengerti dan mengetahui.
Akal adalah yang pertama kali Allah ciptakan, sebagai cahaya yang memampukan kita memahami, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْعَقْلَ
“Yang pertama kali diciptakan Allah adalah akal.” (Hadis ini disebutkan dalam Kitab Ilmu)
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah berfirman kepadanya: “Datanglah!” Maka ia datang. Dan Allah berfirman: “Pergilah!” Maka ia pergi. Ilmu adalah sifat yang melekat pada akal, bukan akal itu sendiri. Dengan akal inilah kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Hati sebagai Raja, dan Pasukannya
Al-Ghazali menggunakan perumpamaan yang indah untuk menjelaskan hubungan antara hati dan elemen-elemen lain. Hati ibarat raja di dalam sebuah kota (tubuh). Raja ini memiliki dua jenis pasukan:
Pasukan yang terlihat (lahir): Yaitu anggota tubuh kita seperti tangan, kaki, mata, telinga, lidah, dan lainnya. Mereka adalah pelayan yang tunduk sepenuhnya pada perintah hati.
Pasukan yang tidak terlihat (batin): Inilah yang lebih menarik. Pasukan batin ini dibagi lagi menjadi tiga jenis utama:
Pendorong (iradah): Yaitu syahwat (untuk mendapatkan manfaat) dan ghadab (untuk menolak bahaya).
Penggerak (qudrah): Kekuatan yang menggerakkan anggota tubuh untuk mencapai tujuan, tersebar di otot dan urat.
Pemaham (ilmu/idrak): Yaitu indra-indra kita (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan) dan kekuatan batin di otak seperti khayal, hafalan, pemikiran, dan ingatan.
Dalam perumpamaan lain, Al-Ghazali menggambarkan:
Jiwa (hati spiritual) seperti raja di kerajaannya (tubuh).
Akal seperti menteri bijaksana dan penasihat yang tulus.
Syahwat seperti budak jahat yang membawa makanan, tapi penuh tipu daya.
Ghadab seperti kepala polisi yang tegas.
Seharusnya, raja (hati) mengandalkan menteri bijaksana (akal) dan menggunakan kepala polisi (ghadab) untuk mendisiplinkan budak jahat (syahwat). Jika hati dikuasai syahwat, maka akal akan diperbudak untuk mencari cara memuaskan nafsu, bukan sebaliknya. Ini seperti seorang penunggang kuda yang bodoh, dengan kuda yang liar (syahwat) dan anjing yang ganas (ghadab), pasti akan celaka.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ
“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu kecuali Dia.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah berdasarkan ilmu-Nya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Dan perumpamaan orang yang mengikuti hawa nafsunya:
“Dan ia mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya seperti anjing, jika engkau menyerang dia, dia menjulurkan lidahnya, dan jika engkau membiarkannya, dia menjulurkan lidahnya juga.” (QS. Al-A’raf: 176)
Sebaliknya, bagi orang yang menahan nafsu dari hawa nafsu, Allah berfirman:
“Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40-41)
Ada pula hadis yang diriwayatkan dari Jabir tentang kembali dari jihad kecil ke jihad besar:
“Kami kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd)
Merefleksikan Diri di Era Kini
Pemahaman ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Di tengah derasnya informasi dan godaan dunia, kita seringkali merasa ditarik oleh berbagai keinginan (syahwat) dan emosi (ghadab). Tanpa kendali akal dan bimbingan hati spiritual, kita bisa tersesat.
Imam Al-Ghazali mengingatkan kita untuk senantiasa “berjihad” melawan nafsu, menggunakan akal sebagai penuntun, dan menjaga hati spiritual agar selalu terhubung dengan Ilahi. Inilah perjalanan sejati manusia menuju kebahagiaan abadi. Mari kita jadikan Ihya Ulumiddin sebagai panduan untuk memahami diri, agar kita bisa menjadi hamba yang lebih baik dan lebih dekat kepada-Nya.
Pernahkah terlintas di benak kita, mengapa ada hari baik dan ada hari yang terasa kurang beruntung? Atau mengapa ada hari-hari tertentu yang terasa lebih berkah untuk aktivitas spesifik? Ternyata, jauh sebelum kita mengenal konsep “hari baik” dalam kalender modern, seorang ulama besar dan waliyullah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, telah mengulas secara mendalam rahasia dan keutamaan hari-hari dalam seminggu.
Dalam karyanya yang monumental, Kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haqqi ‘Azza wa Jalla (Bekal bagi Pencari Jalan Kebenaran Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa), beliau menjelaskan berbagai kejadian penting dan amalan yang dianjurkan berdasarkan hari-hari. Penjelasan ini bersumber dari hadis-hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan riwayat para sahabat. Mari kita telusuri hikmah di baliknya!
Hari Penciptaan: Mengenal Jejak Allah di Setiap Hari
Salah satu riwayat menarik yang disampaikan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah tentang proses penciptaan alam semesta dan Adam ‘alaihis salam. Beliau mengutip hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Allah Ta’ala menciptakan tanah pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung padanya pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan hal yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan kebaikan pada hari Rabu, menyebarkan binatang melata padanya pada hari Kamis, dan menciptakan Adam ‘alaihis salam setelah Ashar pada hari Jumat, sebagai ciptaan terakhir pada saat terakhir dari jam-jam Jumat, antara Ashar hingga malam.”
Riwayat ini memberikan kita gambaran tentang kekuasaan dan ketelitian Allah dalam menciptakan segala sesuatu. Setiap hari memiliki “tanda” penciptaan-Nya, mengingatkan kita akan kebesaran-Nya.
Karakteristik Hari: Memahami Makna di Balik Setiap Tanggal
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga mengutip riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan karakteristik unik setiap hari berdasarkan peristiwa bersejarah dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hari Sabtu adalah hari tipu daya dan pengkhianatan. Dinamakan demikian karena kaum Quraisy bersekongkol melawan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di Darun Nadwah pada hari itu.” Ini jadi pengingat untuk senantiasa waspada dan memohon perlindungan dari tipu daya.
Dan hari Ahad adalah hari menanam dan membangun, dan pada hari itu adalah awal mula Allah menciptakan dunia dan membangunnya.” Cocok untuk memulai proyek baru atau menanam kebaikan.
“Dan hari Senin adalah hari perjalanan dan perdagangan. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam melakukan perjalanan dan berdagang pada hari ini.” Ini bisa jadi motivasi untuk melakukan perjalanan yang bermanfaat atau memulai usaha.
“Dan hari Selasa adalah hari darah. Siti Hawa mengalami haid pada hari itu, dan putra Adam membunuh saudaranya pada hari itu.” Ada pelajaran tentang takdir dan ujian yang menyertai kehidupan.
“Dan hari Rabu adalah hari nahas dan kesialan. Pada hari ini Firaun dan kaumnya ditenggelamkan, serta kaum Ad dan Tsamud dibinasakan pada hari ini.” Ini mengingatkan kita akan bahaya kesombongan dan kekufuran.
Dan hari Kamis adalah hari penunaian hajat dan bertemu penguasa. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menemui Namrud dan hajatnya terpenuhi pada hari ini.” Ini bisa jadi momen baik untuk menyelesaikan urusan penting atau menyampaikan aspirasi.
“Dan hari Jumat adalah hari khotbah dan pernikahan. Banyak dari para Nabi menikah pada hari ini.” Tentu, ini menguatkan posisi Jumat sebagai hari berkah untuk ibadah dan momen sakral seperti pernikahan.
Amalan Pilihan di Hari-Hari Tertentu
Selain karakteristik di atas, Kitab Al-Ghunyah juga memuat beberapa anjuran amalan yang bisa kita praktikkan:
“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari Kamis, maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang di antara dia dan saudaranya ada permusuhan.
“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan puasa pada hari Senin dan Kamis, karena amal perbuatan dipaparkan pada kedua hari tersebut.” Ini adalah kesempatan emas untuk memohon ampunan dan membersihkan diri.
Terjemahan: “Barang siapa yang berpuasa tiga hari berturut-turut: Rabu, Kamis, dan Jumat, niscaya Allah akan membangunkan istana di surga dari permata dan membebaskannya dari api neraka.” Sungguh pahala yang luar biasa!
“Barang siapa yang berpuasa tiga hari dari bulan-bulan haram: Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka akan ditulis baginya pahala ibadah sembilan ratus tahun.” (Bulan Haram adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab).
“Berbekam pada hari Selasa tanggal tujuh belas dapat menghilangkan penyakit selama setahun.” Ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kesehatan dan waktu yang tepat untuk melakukan pengobatan.
Keistimewaan Jumat: Hari Agung Milik Allah dan Umat Muhammad
Dan puncaknya adalah hari Jumat. Meskipun setiap hari memiliki kekhasan, hari Jumat memiliki tempat tersendiri. Dikatakan bahwa hari ini adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Wahai Muhammad, Jumat adalah milik-Ku dan Surga adalah milik-Ku. Maka Aku berikan Jumat kepada umatmu dan Surga bersamanya, dan Aku bersama Jumat dan Surga untuk umatmu.”
Ini adalah karunia terbesar bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hari Jumat bukan hanya tentang shalat Jumat, tetapi juga tentang keberkahan yang Allah limpahkan khusus untuk kita, umat terakhir.
Kesimpulan
Melalui warisan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Ghunyah, kita diajarkan untuk tidak memandang hari-hari secara biasa saja. Setiap hari adalah anugerah dan mengandung potensi kebaikan atau peringatan. Dengan memahami rahasia di balik setiap hari, kita bisa lebih bijak dalam menjalani hidup, mengoptimalkan waktu untuk beribadah, berinteraksi, dan meraih keberkahan.
Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari khazanah ilmu ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan ini, mengenal Allah adalah fondasi utama bagi seorang mukmin. Interaksi kita dengan-Nya bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah perjalanan hati yang penuh ketakwaan, kepercayaan, rasa syukur, dan keikhlasan. Mari kita selami lebih dalam hakikat interaksi dengan Sang Pencipta, sebagaimana dinasihatkan oleh seorang ahli hikmah yang diriwayatkan dalam kitab Adabun Nufus karya Al-Harits Al-Muhasibi, halaman 35-38, yang diterbitkan oleh Dar al-Jail, Beirut, Lebanon.
Sang ahli hikmah memulai nasihatnya dengan seruan universal: “Saya menasihati Anda dan diri saya, dan siapa pun yang mendengar perkataan saya, untuk bertakwa kepada Allah, Yang menciptakan hamba-hamba-Nya, kepada-Nya tempat kembali, dan dengan-Nya ada kebenbasan dan petunjuk.”
Landasan Takwa: Mengenal Kedekatan dan Kekuasaan-Nya
Bertakwa kepada Allah berarti memahami kedekatan-Nya dan kekuasaan-Nya atas diri kita. Ini adalah takwa yang lahir dari kesadaran bahwa Dia senantiasa bersama kita, mengetahui setiap gerak-gerik dan bisikan hati. Keimanan kita kepada-Nya haruslah iman orang yang mengakui keesaan-Nya, keunikan-Nya, dan keazalian-Nya. Bukti-bukti keesaan-Nya begitu nyata: dari keindahan kerajaan-Nya yang terhampar di alam semesta, hingga kesempurnaan ciptaan-Nya yang tiada cela. Ayat-ayat dan dalil-dalil yang tak terhitung jumlahnya membuktikan ketuhanan-Nya, ketetapan kehendak-Nya, serta kebaikan pengaturan-Nya. Segala ciptaan dan perintah adalah milik-Nya, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Pilar Kepercayaan: Husnuzan dan Ketenteraman Hati
Setelah takwa, pilar berikutnya adalah kepercayaan yang kokoh kepada Allah. Ini adalah kepercayaan orang yang berprasangka baik kepada-Nya, tanpa ada sedikit pun keraguan atau kecurigaan. Orang yang percaya sepenuhnya akan membenarkan janji-Nya, yakin akan jaminan-Nya, dan hatinya akan merasakan ketenangan dari segala kegelisahan. Dalam hati mereka, ancaman Allah terasa agung, mendorong mereka untuk senantiasa berhati-hati.
Bersamaan dengan kepercayaan, rasa syukur menjadi bagian tak terpisahkan. Syukuri Allah seperti orang yang telah memahami betapa besar karunia-Nya, betapa banyak pemberian-Nya, dan kebaikan-Nya yang tiada henti. Renungkanlah nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin, yang bersifat khusus maupun umum.
Kunci Keikhlasan: Membersihkan Amal dari Segala Cacat
Inti dari setiap ibadah dan amal adalah keikhlasan. Ikhlaslah kepada Allah seperti orang yang tahu bahwa Dia tidak akan menerima amal kecuali jika bersih dari segala cacat dan semata-mata dilakukan karena Allah, tanpa ada sekutu. Ini berarti tidak menyekutukan seorang pun dalam amal kita selain Dia.
Peringatan penting di sini adalah tentang riya’ atau menyekutukan makhluk dalam beramal. Ini terjadi ketika seseorang berhias diri di hadapan manusia saat melakukan kebaikan, berdusta dalam amalnya, atau berbuat riya agar dihormati dan diagungkan. Ia mungkin mencari pujian atas perkataannya yang indah atau kebaikan yang tampak dari amalnya, entah ia sadar atau tidak.
Tidak ada yang selamat dari keburukan riya’ kecuali orang yang menjauhinya dan beramal tanpa keinginan diketahui oleh makhluk. Jika pun ada yang mengetahui amalnya tanpa ia inginkan, maka keikhlasannya teruji dari ketidaksukaannya terhadap pujian atas amal tersebut. Jika ia dipuji namun tidak menyukainya, janganlah ia merasa senang. Dan jika ia merasa senang, janganlah kesenangan itu karena tujuan duniawi.
Jujur dan Bertawakal Sepenuh Hati
Kejujuran dalam perkataan dan perbuatan adalah cerminan dari kesadaran bahwa Allah mengetahui setiap inci dari diri kita: yang tersembunyi, yang rahasia, yang terang-terangan, dan bahkan apa yang tersimpan dalam hati.
Kemudian, bertawakallah kepada Allah sebagaimana tawakal orang yang percaya sepenuhnya pada janji-Nya dan merasa tenteram dengan jaminan-Nya. Tawakal ini lahir dari keyakinan akan kesetiaan-Nya, keridaan terhadap takdir-Nya, penyerahan diri pada perintah-Nya, keimanan akan takdir-Nya, serta keyakinan yang tulus akan surga dan neraka-Nya.
Rasa Takut dan Harap yang Seimbang
Takut kepada Allah adalah rasa takut yang muncul dari pemahaman akan keperkasaan-Nya, kerasnya siksaan-Nya, azab-Nya yang pedih, serta dampak dan balasan bagi siapa pun yang melanggar perintah-Nya dan durhaka kepada-Nya. Ketahuilah bahwa tidak ada penolong bagi yang Dia tinggalkan, dan tidak ada kebaikan yang mampu menandingi bimbingan, perlindungan, dan penjagaan-Nya. Tak ada yang mampu bersabar menghadapi siksaan dan hukuman-Nya, serta perubahan nikmat-nikmat-Nya.
Namun, rasa takut ini harus diimbangi dengan harapan kepada Allah. Harapkanlah Dia seperti orang yang membenarkan janji-Nya dan telah melihat pahala-Nya. Syukurilah Dia seperti orang yang diterima kebaikannya, diperbaiki amalnya, dan dianugerahi dari limpahan karunia serta kemuliaan-Nya yang melebihi apa yang layak ia dapatkan.
Malu dan Patuh pada Syariat-Nya
Rasa malu kepada Allah adalah malu yang timbul dari kesadaran akan begitu banyaknya karunia dan pemberian-Nya, sementara kita menyadari kekurangan diri dalam bersyukur, sedikitnya kesetiaan pada janji-Nya, dan ketidakmampuan menunaikan hak-Nya. Meski demikian, kita senantiasa merasakan keindahan penutupan aib-Nya, keagungan keselamatan, berlanjutnya nikmat, kebaikan-Nya yang terus-menerus, kesabaran-Nya yang luar biasa, dan pemaafan-Nya.
Akhirnya, ingatlah bahwa Allah telah mewajibkan kewajiban-kewajiban yang tampak dan tersembunyi. Dia telah menetapkan syariat-syariat yang ditunjukkan kepada kita dan diperintahkan untuk kita laksanakan. Dia menjanjikan pahala besar bagi yang melaksanakannya dengan baik, dan mengancam dengan siksaan pedih bagi yang melalaikannya. Ini semua adalah rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita.
Maka, laksanakanlah kewajiban-kewajiban-Nya, patuhilah syariat-syariat-Nya, ikutilah sunah Nabi ﷺ, serta teladanilah jejak para sahabat Nabi. Hiasi diri dengan adab-adab mereka, ikuti jalan mereka, dan jadikan petunjuk mereka sebagai pedoman. Berwasilah kepada Allah dengan mencintai mereka dan mencintai siapa pun yang mencintai mereka, karena merekalah orang-orang yang kembali kepada-Nya, menuju tujuan-Nya, dan dipilih oleh-Nya untuk menemani Nabi-Nya sebagai kekasih dan sahabat.
Semoga refleksi ini menginspirasi kita untuk senantiasa memperbaiki interaksi dengan Allah, demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
“Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.” — Imam Malik
Nama Fatimah binti Muhammad al-Fihriya al-Qurasyiyah atau lebih dikenal dengan Fatimah al-Fihri, adalah simbol keagungan perempuan dalam sejarah peradaban Islam. Di saat perempuan dalam masyarakat Jahiliyah dipandang sebagai aib dan pelengkap semata, Islam hadir memuliakan mereka, dan Fatimah al-Fihri menjadi salah satu contoh nyata bagaimana perempuan Muslim bisa menjadi pelopor peradaban dunia.
Fatimah al-Fihri lahir sekitar tahun 800 M di kota Kairouan, wilayah yang kini dikenal sebagai Tunisia. Ia berasal dari keluarga Quraisy yang taat beragama dan menjunjung tinggi nilai pendidikan. Ayahnya, Muhammad al-Fihri, adalah saudagar sukses yang hijrah ke kota Fez, Maroko, untuk memperluas jaringan usaha.
Keluarga al-Fihri dikenal dermawan dan memiliki kepedulian besar terhadap ilmu. Bersama saudarinya, Maryam, Fatimah tumbuh sebagai perempuan berilmu, berakhlak luhur, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Wakaf Ilmu dan Pendirian Madrasah Al-Qarawiyyin
Setelah wafatnya ayah dan suaminya, Fatimah mewarisi kekayaan besar. Namun, bukan kekayaan yang menjadi kebanggaannya. Ia justru menginfakkan seluruh hartanya untuk membangun sebuah masjid dan madrasah di kawasan komunitas Qarawiyyin di Fez. Masjid itu dibangun pada Ramadhan tahun 245 H / 859 M dan diberi nama Jami’ al-Qarawiyyin.
Fatimah melaksanakan pembangunan masjid tersebut dengan penuh ketakwaan dan kesungguhan spiritual, bahkan disebutkan ia berpuasa selama proses pembangunan berlangsung, sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Awalnya, Al-Qarawiyyin adalah masjid tempat ibadah dan diskusi ilmiah masyarakat. Namun seiring waktu, aktivitas keilmuan berkembang pesat hingga menjadikannya sebagai madrasah terbesar, dan kemudian universitas Islam pertama di dunia.
Universitas Al-Qarawiyyin: Warisan Abadi Fatimah
Universitas Al-Qarawiyyin tidak hanya menjadi pusat studi Islam, tetapi juga menjadi jembatan keilmuan antara dunia Islam dan Barat. Di bawah Dinasti Murabithun dan Dinasti Bani Marin, madrasah ini resmi menjadi universitas dan melahirkan banyak tokoh dunia.
Perpustakaannya, yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan dari Dinasti Marinid, menyimpan berbagai karya besar, seperti:
Muwaththa’ Malik (795 M),
Sirah Ibnu Ishaq (883 M),
Salinan asli Al-Qur’an hadiah Sultan Ahmed al-Mansur (1602),
Karya legendaris Ibnu Khaldun, Kitab al-Ibar (1396 M).
Ilmuwan Besar Lulusan Al-Qarawiyyin
Al-Qarawiyyin mencetak ulama dan cendekiawan besar lintas zaman dan agama, antara lain:
Ibnu Khaldun – Bapak Ilmu Sosiologi dan Sejarah
Al-Idrisi – Kartografer Muslim ternama
Ibnu Bajjah – Filosof dan dokter
Abu al-Abbas az-Zawawi – Matematikawan
Gerbert of Aurillac – Paus Sylvester II, pelopor penyebaran sistem angka Arab di Eropa
Maimonides – Filsuf Yahudi berpengaruh
Pengakuan Dunia
Pada tahun 1998, Guinness Book of World Records menetapkan Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia yang masih aktif dan menawarkan gelar akademik.
Majalah TIME edisi 24 Oktober 1960 menyebutkan bahwa universitas ini mendorong kebangkitan intelektual di Eropa abad ke-15 M. Melalui para lulusannya, konsep angka Arab dan sistem desimal tersebar ke dunia Barat, menggantikan angka Romawi.
Relevansi di Era Modern
Perjuangan Fatimah al-Fihri menjadi inspirasi besar bagi perjuangan pendidikan umat Islam masa kini. Ia membuktikan bahwa perempuan tidak hanya berhak belajar, tapi juga berhak menjadi pelopor, pendidik, dan pendiri lembaga ilmu yang kekal hingga generasi ke generasi.
Bagi Jam’iyyah Walisongo Nusantara dan pegiat dakwah pendidikan seperti di situs walisongo.net, kisah Fatimah al-Fihri adalah bukti bahwa wakaf ilmu dan amal jariyah melalui pendidikan mampu mengubah sejarah. Semangat ini sejalan dengan visi Walisongo dalam mencetak generasi unggul dan meneruskan dakwah global.
Fatimah al-Fihri bukan hanya seorang tokoh perempuan. Ia adalah arsitek peradaban ilmu, pendiri madrasah tertua di dunia, dan pelita yang menyinari gelapnya zaman dengan cahaya ilmu dan ketakwaan.
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” — (HR. Muslim)